5 Perubahan Penting Dalam Pasar Properti Di Ibukota

5 Perubahan Penting Dalam Pasar Properti Di Ibukota

Sekitar tujuh decade yang lalu, dengan biaya sekitar Rp 120 ribu, kita sudah bisa untuk mendirikan bangunan di Indonesia. Namun sekarang, untuk membangun sebuah gedung yang sama, kita perlu merogoh uang sampai miliaran hingga triliunan rupiah. Tahun ini negera Indonesia pun telah memperingati 70 tahun kemerdekaannya sejak tahun 1945, banyak sekali aspek yang telah mengalami perubahan besar, tidak terkecuali untuk sektor properti. Berikut ini adalah 5 perubahan penting dalam pasar properti di Ibukota dari sebelum merdeka sampai telah melewati momen kemerdekaan, diantaranya :

1. Sulitnya Untuk Mendapatkan Hak Milik Properti

Pada periode pra-kemerdekaan, setidaknya terdapat 60 juta jiwa tinggal di Indonesia. Di masa tersebut, hampir tidak mungkin bagi pribumi lokal untuk memperoleh hak milik atas properti karena kurangnya akses ke mata uang yang berlaku, Gulden. Saat ini, akses untuk berjual dan beli property sudah sedemikian mudahnya. Penelitian Lamudi menunjukkan, pada tahun 1930, biaya untuk membeli 100 meter persegi tanah mencapai 1.8 kali pendapatan rata-rata seseorang1. Bahkan, dengan luas tanah yang sama, biayanya lebih dari 65 kali upah rata-rata di Jakarta.

2. Properti Kian Semakin Diminati Di Ibukota

Sebagai ibukota tentunya Jakarta sangat menjadi pusat kegiatan dunia politik dan perdagangan sehingga dapat memicu peningkatan yang cukup dramatis dalam hal kepadatan penduduk. Peningkatan jumlah penduduk tersebutlah yang pada akhirnya, membuat properti kian semakin diminati di ibukota. Kalau dilihat pada tahun pertama proklamasi, jumlah penduduk Jakarta hanya berkisar sekitar 600 ribu jiwa, dengan kepadatan sekitar 900 jiwa per km persegi. Namun kini, kepadatan penduduk di Jakarta telah mencapai 10x lipat, yakni telah mencapai sekitar lebih dari 10 ribu orang per km persegi. Data ini tentu tidak mengejutkan lagi, mengingat secara keseluruhan populasi di Jabodetabek sudah berada di atas 28 juta penduduk. Dimana lebih dari 64 persen di antaranya adalah masyarakat golongan kelas menengah dan atas.

3. Konstruksi Bangunan Gedung Pencakar Langit Yang Semakin Meningkat

Pada periode 2009-2012, kontruksi bangunan gedung pencakar langit di Jakarta telah mencapai diatas 150 meter atau meningkat sekitar 87,5% dari periode yang sama sebelum tahun 2009. Dan jumlah gedung pencakar langit diperkiran akan terus bertambah sampai tahun 2020 hingga mencapai sekitar 250 unit bangunan. Hal ini lah yang membuat Jakarta merupakan sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan properti tercepat di dunia.

4. Meningkatnya Harga Properti

Untuk membangun sebuah gedung pada tahun 1950 biayanya hanya sekitar Rp. 120 ribu – Rp. 200 ribu permeter persegi. Namun sekarang untuk membangun sebuah gedung dengan ukuran yang sama anda haruslah menyediakan uang hingga miliaran rupiah. Untuk harga properti premium Kota Jakarta menjadi yang tertinggi di dunia. Harga tanah dan perumahan di Ibukota terus mengalami kenaikan yang cukup tinggi setiap tahunnya.

5. Peluang Memiliki Properti Masih Terjangkau Di Beberapa Lokasi

Tingginya harga tanah dan bangunan serta kelangkaan dalam mencari sebuah lokasi untuk sebuah properti, hal ini mungkin telah membuat banyak orang menjadi pesimis untuk menemukan sebuah rumah di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Namun sebenarnya tidak demikian, peluang untuk memiliki properti masih tetap terjangkau di beberapa lokasi asalkan pandai dan cermat dalam mencarinya. Dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, tentu anda bisa melakukan penelusuran untuk mencari informasi dan lokasi yang anda butuhkan untuk membangun sebuah properti di internet atau bisa juga dengan menghubungi agen-agen properti yang ada.

Share